Pernah nggak, kamu sudah berencana belajar CPNS dari pagi, tetapi sampai malam justru belum mengerjakan materi yang paling penting?
Niat awalnya mau latihan soal TIU. Namun, begitu melihat soal deret angka yang panjang, rasanya langsung ingin pindah ke materi lain. Akhirnya kamu memilih membaca rangkuman TWK, menonton video pembelajaran, merapikan catatan, atau sekadar mencari tips belajar CPNS di media sosial.
Tanpa terasa, dua jam berlalu.
Kamu memang sudah melakukan banyak aktivitas, tetapi materi yang paling sulit justru belum tersentuh sama sekali.
Lucunya, hal seperti ini sering terjadi bukan karena kita tidak punya waktu, melainkan karena kita lebih suka mengerjakan sesuatu yang terasa mudah dan nyaman.
Nah, kalau kamu pernah mengalami situasi tersebut, ada satu teknik produktivitas yang menarik untuk dicoba, yaitu Eat the Frog.
Teknik ini mengajarkan prinsip sederhana: kerjakan tugas paling penting dan paling menantang terlebih dahulu, kemudian lanjutkan dengan pekerjaan lainnya.
Kedengarannya sederhana, kan? Namun, kalau diterapkan secara konsisten, cara ini bisa membantu kamu membangun kebiasaan belajar yang lebih terarah.
Terutama ketika sedang mempersiapkan diri menghadapi ujian Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) CPNS.
1. Apa Itu Teknik Eat the Frog?
Eat the Frog merupakan konsep produktivitas yang dipopulerkan oleh Brian Tracy melalui bukunya yang berjudul Eat That Frog!: 21 Great Ways to Stop Procrastinating and Get More Done in Less Time.
Dalam buku tersebut, istilah frog atau katak digunakan sebagai gambaran untuk pekerjaan besar dan penting yang paling mungkin kita tunda.
Bayangkan kamu harus melakukan lima kegiatan belajar hari ini:
Membaca ulang rangkuman TWK.
Menonton video pembahasan TKP.
Menghafalkan beberapa istilah kebangsaan.
Mengerjakan 20 soal TIU numerik tingkat sulit.
Merapikan catatan belajar.
Kalau TIU numerik merupakan kelemahan terbesarmu, kemungkinan besar tugas nomor empat terasa paling berat.
Kamu tahu latihan itu penting, tetapi selalu menemukan alasan untuk menundanya.
"Nanti saja setelah makan."
"Tunggu mood belajar bagus dulu."
"Belajar yang gampang dulu biar semangat."
Pada akhirnya, latihan yang sebenarnya paling dibutuhkan malah terus tertunda.
Di sinilah Eat the Frog bekerja.
Daripada menghabiskan energi untuk pekerjaan kecil yang mudah, kamu mengerjakan tugas paling penting terlebih dahulu ketika konsentrasimu masih bagus.
Setelah selesai, kamu bisa melanjutkan aktivitas belajar lainnya dengan perasaan lebih lega.
Namun, perlu diingat bahwa Eat the Frog bukan sekadar mengerjakan apa pun yang paling sulit. Prioritas utamanya adalah tugas yang memiliki dampak paling besar terhadap tujuanmu.
Dalam konteks persiapan CPNS, berarti materi yang paling membutuhkan perhatian untuk meningkatkan kesiapan ujian.
2. Sibuk Belajar Belum Tentu Berarti Produktif
Salah satu gagasan menarik dari Eat That Frog adalah pentingnya membedakan antara aktivitas dan pencapaian.
Coba perhatikan dua peserta CPNS berikut.
Peserta A:
Belajar selama empat jam. Ia menonton banyak video pembelajaran, mengumpulkan rangkuman, mengunduh PDF, dan membaca ulang materi yang sudah dikuasainya.
Peserta B:
Belajar selama dua jam. Ia mengerjakan soal pada materi yang belum dikuasai, membahas kesalahan, mempelajari konsep yang kurang dipahami, kemudian menguji dirinya kembali.
Siapa yang lebih produktif?
Jawabannya tidak bisa ditentukan hanya dari durasi belajar. Namun, kegiatan peserta B lebih mudah diukur hasilnya karena berfokus pada kelemahan tertentu dan disertai evaluasi.
Inilah perbedaan penting antara sibuk belajar dan belajar dengan tujuan yang jelas.
Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam tanpa benar-benar meningkatkan kemampuan apabila kegiatan belajar tidak diarahkan pada kebutuhan yang tepat.
Karena itu, mulai sekarang jangan hanya bertanya:
"Sudah berapa jam saya belajar hari ini?"
Cobalah menggantinya dengan:
"Apa yang benar-benar saya kuasai setelah belajar hari ini?"
Pertanyaan kedua membantu kamu menilai hasil belajar, bukan sekadar menghitung waktu yang dihabiskan.
3. Tentukan Prioritas Belajar dengan Metode ABCDE
Lalu, bagaimana kalau semua materi CPNS terasa penting?
Brian Tracy memperkenalkan metode ABCDE, yaitu cara mengelompokkan pekerjaan berdasarkan prioritas dan konsekuensinya.
Metode ini sangat cocok diterapkan saat menyusun jadwal belajar SKD CPNS.
A — Tugas yang Harus Dikerjakan
Kategori A berisi kegiatan yang sangat penting dan memiliki konsekuensi besar jika diabaikan.
Dalam persiapan CPNS, tugas A bisa berupa:
Mempelajari konsep TIU numerik yang masih sering salah.
Mengikuti simulasi CAT untuk mengetahui kemampuan awal.
Mengevaluasi hasil tryout dengan skor yang masih jauh dari target.
Melatih manajemen waktu pada kelompok soal yang sering tidak selesai.
Inilah kandidat utama frog yang harus kamu selesaikan terlebih dahulu.
Kalau ada beberapa tugas A, kamu bisa mengurutkannya menjadi A1, A2, dan A3.
Mulailah dari A1, yaitu tugas dengan prioritas tertinggi.
B — Tugas yang Sebaiknya Dikerjakan
Kategori B merupakan kegiatan yang penting, tetapi konsekuensinya tidak sebesar tugas A.
Contohnya:
Membaca ulang rangkuman materi yang sudah cukup dikuasai.
Menambah contoh soal pada topik yang relatif mudah.
Menonton pembahasan tambahan untuk memperkuat pemahaman.
Kegiatan ini tetap bermanfaat. Namun, jangan sampai seluruh waktumu habis di kategori B sementara tugas A terus tertunda.
C — Tugas yang Menyenangkan jika Dikerjakan
Kategori C berisi kegiatan yang boleh dilakukan, tetapi tidak memberikan dampak besar terhadap tujuan utama.
Misalnya:
Mengganti desain sampul catatan.
Menata folder materi agar terlihat lebih menarik.
Mencari template jadwal belajar baru padahal jadwal sebelumnya masih bisa digunakan.
Tidak ada yang salah dengan kegiatan tersebut. Hanya saja, jangan menjadikannya alasan untuk menghindari latihan soal.
D — Tugas yang Bisa Didelegasikan
Kategori D adalah kegiatan yang dapat dibantu orang lain tanpa mengurangi tanggung jawab belajar pribadi.
Contohnya:
Meminta teman membuat pembagian jadwal diskusi.
Bergantian menyusun daftar referensi belajar.
Memanfaatkan sistem tryout yang sudah menyediakan penilaian otomatis.
Tetapi ingat, memahami materi dan mengerjakan latihan tetap menjadi tanggung jawabmu sendiri.
E — Tugas yang Bisa Dihilangkan
Kategori E berisi kegiatan yang tidak memberikan manfaat berarti terhadap tujuan belajar.
Contohnya:
Terus membandingkan buku tanpa mulai membaca.
Menghabiskan waktu mencari tips belajar yang sama berulang kali.
Membuka media sosial tanpa tujuan saat sesi latihan berlangsung.
Mengurangi aktivitas kategori E dapat memberikan ruang lebih besar bagi kegiatan yang benar-benar penting.
Intinya, tidak semua aktivitas belajar memiliki prioritas yang sama. Belajarlah berdasarkan dampaknya terhadap kemampuanmu, bukan hanya karena aktivitas tersebut terasa menyenangkan.
4. Terlalu Sulit untuk Memulai? Gunakan Teknik Salami Slice
Sekarang bayangkan kamu sudah menentukan prioritas A1, yaitu menguasai penalaran numerik TIU.
Masalahnya, materi tersebut terasa sangat luas.
Ada deret angka, perbandingan, aritmetika sosial, persentase, aljabar, peluang, hingga soal cerita yang membutuhkan beberapa tahapan perhitungan.
Baru melihat daftar materinya saja sudah membuat kamu kehilangan semangat.
Brian Tracy memperkenalkan pendekatan yang disebut Salami Slice, yaitu memecah pekerjaan besar menjadi bagian-bagian kecil agar lebih mudah dikerjakan.
Bayangkan sebuah sosis salami yang dipotong menjadi irisan tipis. Kita tidak harus memakannya sekaligus, tetapi bisa menyelesaikannya satu irisan demi satu irisan.
Prinsip yang sama dapat diterapkan ketika belajar CPNS.
Daripada menulis target:
"Hari ini harus menguasai semua TIU numerik."
Cobalah menggantinya menjadi:
Hari pertama: Memahami konsep dasar perbandingan senilai dan berbalik nilai.
Hari kedua: Mengerjakan soal perbandingan dengan dua variabel.
Hari ketiga: Mengerjakan soal cerita perbandingan yang melibatkan perubahan jumlah pekerja dan waktu.
Hari keempat: Berlatih soal perbandingan tingkat sulit dengan batas waktu.
Hari kelima: Mengerjakan latihan campuran dan mengevaluasi kesalahan.
Dengan cara ini, target besar yang semula terasa menakutkan berubah menjadi langkah-langkah kecil yang lebih jelas.
Kamu tidak harus langsung mahir dalam satu malam.
Cukup selesaikan satu bagian dengan baik, kemudian lanjutkan ke bagian berikutnya.
5. Sulit Memulai Belajar? Coba Teknik Swiss Cheese
Pernah merasa sudah duduk di depan meja, buku sudah terbuka, tetapi tetap saja tidak tahu harus mulai dari mana?
Bisa jadi masalahmu bukan pada kemampuan memahami materi, melainkan pada kesulitan memulai.
Untuk kondisi seperti ini, kamu bisa mencoba pendekatan Swiss Cheese.
Bayangkan keju Swiss yang memiliki banyak lubang kecil.
Dalam konteks produktivitas, teknik ini berarti membuat kemajuan kecil pada pekerjaan besar dengan mengerjakan sebagian tugas dalam waktu singkat.
Contohnya, kamu sedang menghindari latihan soal TIU analitis.
Daripada memaksakan diri belajar dua jam penuh, buat kesepakatan sederhana:
"Saya hanya perlu mengerjakan tiga soal selama 15 menit."
Setelah 15 menit, kamu boleh mengevaluasi apakah ingin melanjutkan atau beristirahat sejenak.
Menariknya, setelah mulai mengerjakan satu atau dua soal, hambatan psikologis untuk melanjutkan sering kali terasa lebih ringan.
Kamu sudah memiliki momentum.
Namun, jangan menjadikan batas 15 menit sebagai alasan untuk mengerjakan soal secara asal-asalan. Tujuan teknik ini adalah membantu memulai, bukan mengorbankan kualitas pemahaman.
6. Jangan Sampai Gangguan Kecil Menghabiskan Waktu Belajarmu
Salah satu tantangan terbesar saat belajar saat ini adalah banyaknya gangguan.
Baru lima menit mengerjakan soal, muncul notifikasi pesan.
Ketika membuka ponsel, ternyata ada video menarik.
Lima menit kemudian, kamu berpindah ke video lain.
Tanpa terasa, waktu belajar yang seharusnya digunakan untuk memahami materi justru habis untuk sesuatu yang tidak direncanakan.
Gangguan belajar bisa berasal dari luar maupun dari dalam diri.
Gangguan dari luar, misalnya notifikasi, suara televisi, obrolan, atau media sosial.
Gangguan dari dalam, misalnya rasa malas, keinginan berpindah materi, takut salah menjawab, atau pikiran bahwa materi yang dipelajari terlalu sulit.
Eat the Frog mengajarkan kita untuk melindungi waktu dan energi bagi pekerjaan yang paling penting.
Dalam persiapan CPNS, kamu bisa mencoba beberapa kebiasaan sederhana:
Aktifkan mode fokus saat mengerjakan latihan soal.
Tentukan satu materi utama sebelum membuka aplikasi belajar.
Siapkan bahan belajar sebelum sesi dimulai.
Hindari berpindah-pindah materi hanya karena menemukan soal yang sulit.
Berikan waktu istirahat setelah sesi belajar yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Kuncinya bukan menghilangkan seluruh gangguan selamanya, tetapi menciptakan waktu belajar yang lebih terlindungi.
7. Manfaatkan Waktu Luang untuk Belajar Hal-Hal Ringan
Tidak semua orang memiliki waktu luang yang banyak.
Ada peserta CPNS yang bekerja dari pagi sampai sore, kuliah, menjalankan usaha, atau memiliki tanggung jawab keluarga.
Karena itu, kamu tidak selalu harus menyediakan waktu panjang untuk setiap aktivitas belajar.
Cobalah memanfaatkan waktu-waktu kecil yang tersedia.
Misalnya, ketika berada di kendaraan umum, kamu dapat mendengarkan pembahasan materi, podcast edukasi, atau audio penjelasan konsep.
Ketika sedang menunggu antrean, kamu bisa menggunakan beberapa menit untuk mengingat kembali istilah kebangsaan atau menguji hafalan.
Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan.
Tidak semua materi cocok dipelajari sambil melakukan aktivitas lain.
Soal TIU numerik yang membutuhkan perhitungan dan penalaran mendalam, misalnya, lebih baik dikerjakan dalam sesi belajar khusus.
Begitu juga ketika sedang mengemudi. Jangan memaksakan diri membaca atau mengerjakan soal karena keselamatan harus menjadi prioritas.
Gunakan waktu luang untuk aktivitas belajar yang relatif ringan, sedangkan materi yang membutuhkan konsentrasi tinggi sebaiknya dikerjakan pada waktu terbaikmu.
8. Buat Janji Belajar dengan Dirimu Sendiri
Kita sering membuat janji dengan orang lain.
Ada janji rapat, janji bertemu teman, janji menghadiri acara, dan berbagai aktivitas lain yang masuk ke kalender.
Tetapi bagaimana dengan janji untuk belajar?
Sering kali kita justru menganggapnya sebagai kegiatan yang boleh dilakukan kalau masih ada waktu.
Padahal, persiapan CPNS membutuhkan konsistensi.
Cobalah membuat janji belajar dengan dirimu sendiri.
Contohnya:
"Setiap pukul 19.00 sampai 20.00, saya akan belajar tanpa gangguan."
Pada waktu tersebut, kamu sudah menentukan materi utama yang perlu dipelajari.
Bukan lagi sibuk memikirkan harus belajar apa, tetapi langsung mulai mengerjakannya.
Kamu bisa membagi satu jam tersebut menjadi:
5 menit meninjau target.
30 menit mengerjakan materi prioritas.
20 menit membahas jawaban dan kesalahan.
5 menit mencatat hal yang perlu diperbaiki.
Tentu saja, durasinya bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Kalau suatu hari hanya memiliki waktu 30 menit, gunakan 30 menit itu dengan baik.
Lebih penting membangun kebiasaan belajar yang realistis dan konsisten daripada membuat jadwal terlalu ambisius tetapi sulit dijalankan.
9. Contoh Penerapan Eat the Frog dalam Jadwal Belajar SKD CPNS
Supaya lebih mudah dibayangkan, berikut contoh penerapan metode Eat the Frog, ABCDE, Salami Slice, dan Swiss Cheese dalam satu sesi belajar.
Misalnya, kamu adalah peserta CPNS yang memiliki hasil evaluasi berikut:
TWK: Sudah cukup memahami konsep, tetapi masih perlu latihan soal kasus.
TIU: Sering salah pada soal numerik dan kehabisan waktu.
TKP: Sudah mengenali beberapa pola soal, tetapi perlu memperkuat penalaran dalam menentukan pilihan jawaban.
Berdasarkan kondisi tersebut, latihan TIU numerik ditetapkan sebagai prioritas A1.
Berikut contoh jadwal belajar selama dua jam.
Bagian terpenting dari jadwal tersebut adalah kamu mengerjakan materi prioritas ketika kemampuan konsentrasimu masih baik.
Tetapi bukan berarti TWK dan TKP boleh diabaikan.
Ketiga kelompok tes tetap perlu mendapatkan porsi latihan yang cukup karena semuanya berperan dalam hasil SKD.
10. Evaluasi Kemampuanmu, Jangan Hanya Mengandalkan Perasaan
Ada satu kebiasaan yang perlu dibangun selama persiapan CPNS, yaitu mengukur perkembangan belajar.
Jangan hanya mengandalkan perasaan seperti:
"Sepertinya saya sudah mulai paham."
"Kayaknya TIU sekarang lebih gampang."
"Rasanya skor saya sudah meningkat."
Perasaan tersebut bisa menjadi motivasi, tetapi belum cukup untuk menunjukkan perkembangan secara objektif.
Cobalah mencatat beberapa indikator sederhana:
Akurasi jawaban: Berapa banyak soal yang dijawab benar dibandingkan jumlah soal yang dikerjakan?
Waktu pengerjaan: Apakah kamu semakin cepat tanpa mengorbankan ketepatan?
Jenis kesalahan: Apakah kesalahan muncul karena belum memahami konsep, salah menghitung, atau kurang teliti membaca pertanyaan?
Konsistensi hasil: Apakah peningkatan kemampuan muncul dalam beberapa latihan, bukan hanya satu kali?
Misalnya, pada latihan pertama kamu hanya mampu menjawab 12 dari 20 soal numerik dengan benar.
Setelah beberapa sesi latihan dan evaluasi, hasilmu meningkat menjadi 17 dari 20 soal pada tingkat kesulitan yang sebanding.
Perubahan tersebut bisa menjadi indikasi perkembangan.
Namun, tetap perhatikan kualitas soal dan batas waktu yang digunakan agar perbandingan hasil lebih adil.
Inilah alasan mengapa simulasi tryout dan analisis hasil latihan sangat berguna sebagai bagian dari persiapan ujian.
11. Belajar Efektif Bukan Berarti Harus Selalu Belajar Lebih Lama
Sampai di sini, ada satu pelajaran penting dari Eat the Frog yang bisa kita terapkan.
Produktivitas bukan sekadar kemampuan mengisi seluruh waktu dengan aktivitas.
Produktivitas juga berkaitan dengan kemampuan menentukan mana yang benar-benar penting, lalu mengerjakannya sampai menghasilkan perkembangan yang nyata.
Dalam persiapan CPNS, kamu tidak harus terus-menerus menambah jam belajar tanpa arah.
Belajar selama dua jam dengan fokus yang jelas dapat lebih bermanfaat daripada empat jam yang dipenuhi gangguan, meskipun hasil akhirnya tetap bergantung pada kualitas latihan dan kebutuhan masing-masing.
Kamu juga tidak harus selalu memulai dari soal tersulit sepanjang waktu.
Jika kemampuan dasarmu belum kuat, justru langkah paling penting adalah membangun pemahaman konsep terlebih dahulu.
Kalau kamu sudah menguasai konsep dasar, barulah tingkatkan kesulitan soal secara bertahap.
Jadi, jangan salah mengartikan Eat the Frog sebagai kewajiban memaksakan diri menghadapi materi ekstrem setiap hari.
Teknik ini mengajarkan kita untuk menentukan pekerjaan yang paling berarti bagi tujuan belajar, kemudian berani memulainya.
Yuk!! Makan Katakmu Dulu, Baru Nikmati Harimu!
Pada akhirnya, tantangan terbesar dalam mempersiapkan ujian CPNS terkadang bukan sekadar sulitnya materi.
Ada tantangan lain yang tidak kalah penting, yaitu mengelola waktu, menjaga fokus, menentukan prioritas, dan melawan kebiasaan menunda.
Melalui pendekatan Eat the Frog, kamu bisa membangun beberapa kebiasaan sederhana:
Tentukan tugas belajar yang paling penting dan berdampak besar.
Gunakan metode ABCDE untuk menyusun prioritas.
Pecah materi besar menjadi bagian kecil dengan Salami Slice.
Mulai pekerjaan yang terasa berat menggunakan Swiss Cheese.
Lindungi waktu belajar dari gangguan yang tidak perlu.
Manfaatkan waktu luang untuk aktivitas pembelajaran yang sesuai.
Evaluasi perkembangan melalui latihan dan simulasi secara berkala.
Ingat, tidak ada teknik produktivitas yang otomatis membuat seseorang langsung menguasai semua materi CPNS.
Tetapi kebiasaan menentukan prioritas dan belajar secara konsisten bisa membantu kamu mempersiapkan diri dengan lebih terarah.
Kalau selama ini kamu selalu menghindari soal TIU numerik, mungkin sekarang waktunya mulai menghadapi soal tersebut.
Kalau kamu sering bingung menentukan jawaban TKP, coba luangkan waktu khusus untuk memahami alasan dan prioritas di balik setiap opsi.
Kalau kamu masih kesulitan mengerjakan TWK berbasis kasus, mulailah melatih kemampuan menerapkan konsep, bukan sekadar menghafal.
Jangan menunggu semua materi terasa mudah untuk mulai belajar. Justru dengan mulai belajar, hal yang sebelumnya terasa sulit bisa perlahan menjadi lebih mudah.
Jadi, sudah tahu apa "katak" yang harus kamu selesaikan hari ini?
Referensi
Tracy, Brian. Eat That Frog!: 21 Great Ways to Stop Procrastinating and Get More Done in Less Time. Berrett-Koehler Publishers.
Catatan: Artikel ini merupakan pengembangan edukatif berdasarkan konsep produktivitas Brian Tracy, bukan kutipan langsung atau reproduksi buku. Teknik yang dibahas bertujuan membantu pengelolaan waktu dan prioritas belajar, bukan menjamin kelulusan seleksi CPNS.